Jika Rezeki Sudah Ditentukan, Kenapa Harus Berusaha?

0
3645
Rezeki Bekerja Keras
Bekerja dan usaha bukan sebab datangnya rezeki

Rezeki, batas umur (ajal), amal (baik dan buruk), serta nasib (mulia/kebahagiaan atau celaka) telah ditentukan oleh Allah SWT pada waktu seseorang ditiupkan ruh kepadanya (dalam rahim ibunya), sebelum seseorang lahir ke dunia. Apapun yang telah Allah tetapkan pada setiap manusia maka tidak akan pernah berubah. Tetapi meskipun demikian bukan berarti kita hanya tinggal menunggu, malas-malasan dengan alasan sudah ditentukan. Karena hanya Allahlah yang tahu hakikatnya. Oleh karena itulah Allah dan Rasulnya menyuruh setiap orang untuk terus berikhtiar, berusaha serta melakukan pekerjaan yang dapat mengantarkan dirinya kepada cita-citanya. Kemudian setelah orang muslim tersebut berusaha dan cita-citanya belum tercapai, baru dia bersandar kepada hakekat, agar jiwanya dapat tenang

Mungkin diantara kita ada yang bertanya: apa gunanya manusia berusaha (berikhtiar), dan bekerja jika rezekinya sudah ditentukan oleh Allah SWT?

Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam tulisan  sebelumnya : Tidak Perlu Khawatir dengan Rezeki, bahwa usaha dan kerja ataupun jabatan serta kecerdasan bukanlah sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya. Jadi, bekerja dan berusahalah bukan untuk sekedar memenuhi/mengejar rezeki karena bukan untuk itu kita bekerja. Kita bekerja dan berusaha hanya semata-mata melaksanakan perintah-Nya, hanya semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Usaha (ikhtiar) wajib dilakukan berdasarkan perintah syari’at, sementara hasil dari ikhtiar itu sudah ditentukan oleh Allah SWT. Mungkin saja usaha/ikhtiar itu berhasil dan menjadi penyebab bagi kesuksesan seseorang, tetapi bisa jadi ikhtiar itu juga gagal dan/atau belum berhasil. Hanya Allah lah yang mengetahuinya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS Al-Jum’ah : 9 – 10)

Ayat diatas telah menunjukkan adanya perintah untuk bekerja : bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah. Ayat dibawah ini dengan jelas Allah SWT telah memerintahkan Rasulullah agar menyuruh manusia untuk bekerja

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At-Taubah : 105)

Rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang didalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, kita harus paham bahwa usaha dan ikhtiar itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Kita harus berusaha sesuai dengan kemampuan maksimal kita dan hal itu akan diperhitungkan oleh Allah SWT. Orang yang beriman dilarang bersikap malas, berpangku tangan, dan menunggu keajaiban menghampirinya tanpa adanya usaha.

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ(رواه الحاكم )

Barangsiapa amal usahanya lebih baik dari hari kemarin maka orang itu termasuk yang beruntung; jika amal usahanya sama dengan yang kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi; dan jika amal usahanya lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang terlaknat. (H.R. al-Hakim)

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ اَبَدًا وَاعْمَلْ ِلآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah engkau hidup selama-lamanya; dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok hari (H.R. Ibnu Asakir).

Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba. Di akhirat nanti Allah tidak akan menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, besar kecilnya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki (patuh tidaknya terhadap perintah bekerja), serta benar tidaknya kerja yang dilakukan. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak.

Wallahu A’lam Bishoab